You are here
Home > Tak Berkategori > Diskusi dan Sharing Antar Mahasiswa Bisa Tangkal Paham Radikal dan Terorisme

Diskusi dan Sharing Antar Mahasiswa Bisa Tangkal Paham Radikal dan Terorisme

Berbagai upaya bisa dilakukan pemuda dan mahasiswa untuk menangkal masuknya ideologi asing. Di Kendari, sejumlah mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta mengadakan diskusi rutin untuk pencegahan paham-paham luar yang berusaha menggantikan dasar negara yakni pancasila.

Mereka menamakan diri Lingkar Studi Mahasiswa (LPS) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Setiap diskusi mengangkat tema berbeda-beda, kegiatannya juga digelar di tempat-tempat terbuka. Seperti di Taman Budaya Kendari, Alun-Alun kota atau areal eks MTQ Kendari dan juga masuk ke dalam kampus-kampus.
Ketua LSP Kendari, Jufrianto, mengatakan, ideologi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila berpeluang masuk di kampus atau di daerah, jika mahasiswa sebagai generasi muda tidak memiliki kualitas dalam membentengi dirinya.
“Kekuatan mahasiswa harus dibangun dari kesadaran diri untuk terus meningkatkan kualitas diri. Intelektual mahasiswa merupakan bagian terpenting dalam membentengi dirinya dari pengaruh negatif,” kata Jufrianto.

Ideologi luar yang bisa saja masuk ke kampus-kampus yakni paham komunis dan paham-paham radikal serta terorisme. Jika tidak dari generasi muda yang nantinya sebagai penerus bangsa, maka pancasila sebagai dasar negera Republik Indonesia terancam berganti.

Lewat diskusi-diskusi ini, diharapkan para mahasiswa bisa mengerti dan memahami akan bahaya tindakan radikal dan terorisme atas nama agama. Dalam diskusi itu, dihadirkan para pemateri yang juga dosen-dosen mereka. Seorang akademisi IAIN Kendari, Yusuf Busyro, mengatakan, untuk menangkal masuknya idealisme asing adalah dengan cara memahami dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari hari.

“Mahasiswa harus benar-benar memahami roh Pancasila, jangan dijadikan hanya subuah ikon lambang negara. Pancasila bisa menjadi filter dari semua ideologi dan pemikiran atau sekta-sekta pemikiran dari asing,” katanya.

Ia mencontohkan, dengan memahami Pancasila, maka diyakini bisa memfilter faham ISIS atau pun gerakan radikal yang bisa mengganggu nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
“Pancasila menjadi filter ideologi asing karena merupakan bagian dari semua akumulasi pemikiran fundamen, dan nilai-nilai Pancasila berbicara tentang konteks ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerjasama, permusyawaratan dan keadilan,” katanya.

Menurutnya, ideologi asing tidak akan mudah masuk ke kampus, jika mahasiswa memiliki integritas, berkualitas dan tetap menjunjung nilai-nilai Pancasila dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari baik di lingkungan kampus maupun masyarakat.
“Ini menjadi tantangan kita bersama, tidak hanya kalangan mahasiswa atau masyarakat, tetapi juga pemerintah harus mengintervensi untuk mendorong kegiatan peningkatan pemahaman dan pengamalan Pancasila kepada generasi muda sebagai filter dari semua pemikiran atau ideologi asing,” ujarnya.

#DamaiDalamSumpahPemuda

Top